Kamis, 16 Juli 2009

CERITA LEPAS PANJANG

CERITA LEPAS PANJANG

1. Joe dan Nong

Judul : Joe dan Nong
Jenis : Lepas
durasi : 120 menit
Halaman : 130 Halaman

Sinopsis :

Judul

JOE DAN NONG

Cerita dan Skenario : Andan

SINOPSIS

JOE menemukan slip lama transfer uang yang terselip dibuku lama milik HERU SETIAWAN (ayah JOE almarhum). Si pengirim uang itu adalah HERU SETIAWAN sendiri yang ditunjukan kepada seorang wanita bernama DINA. akhirnya JOE dapat menemukan jejak HERU yang sejak lama meninggalkan keluarga tanpa kabar berita. Suatu kebetulan terjadi. Ketika keluarga JOE pindah dari Bandung ke Jakarta, rumah baru keluarga JOE tersebut bersebelahan dengan rumah DINA. Dan JOE baru sadar kalau alamat rumah barunya itu adalah alamat yang alamatnya tertera pada slip trasfer uang yang diketemukan JOE. JOE sangat shock setelah tahu kalau DINA adalah istri kedua HERU. JOE merahasiakan hal ini kepada RISKA (mama JOE). Yang lebih mengagetkan lagi. JOE mendapati HERU SETIAWAN telah meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak yang bernama DUDI dan NONG.

Jiwa JOE bergejolak, hingga kebencian terhadap keluarga DINA muncul. tapi pertemuannya dengan NONG meluluhkan hati JOE. JOE jatuh cinta kepada NONG. cinta yang dirasakan JOE begitu aneh dan menyiksa, karena JOE berpikir bahwa NONG adalah adik kandungnya. Demikian pula halnya dengan NONG, ia merasakan getaran cinta yang begitu kuat terhadap JOE. Tapi pada akhirnya JOE harus pergi meninggalkan NONG. JOE memberitahu prihal yang sebenarnya tentang persaudaraan mereka. Hati NONG tidak dapat menerima itu semua. NONG tidak merasa bahwa JOE adalah kakaknya, karena tidak sedikitpun terbersit dijiwa dan naluri NONG kalau JOE dan NONG mengalir darah yang sama.

Kepergian JOE dan kematian DINA membawa duka yang teramat sangat untuk NONG. sehingga NONG pun pergi meninggalkan penatnya Jakarta, kesebuah tempat terpencil. Didesa terpencil tersebut NONG menemukan lagi semangat dan harapan hidupnya. Ditempat terpencil itu NONG mulai menghargai arti kemanusiaan, NONG begitu dekat dengan anak anak desa, sehingga kedakatan dan kasih sayang NONG sangat berharga dan berarti untuk anak anak. NONG melihat tangguhnya kaki kaki anak anak desa, cerdas dan juga ceria kebebasanya. NONG membuat mereka menjadi lebih berkilau percaya diri dan optimis akan membangun desanya kelak dan menjadi anak anak desa yang cerdas.

Kepergian NONG kedesa terpencil juga menguak satu rahasia bahwa NONG dan JOE sebenarnya bukanlah saudara sedarah.


CONTOH PROFIL TOKOH JOE DAN NONG

PROFIL TOKOH

JOE

JOE adalah seorang lelaki tampan dan pintar, tubuhnya tinggi ramping, rambutnya lurus dan hitam. JOE adalah putra dari almarhum HERU SETIAWAN. JOE memiliki sifat yang penyayang. Hal ini terbukti pada saat JOE dapat meredakan amarahnya dalam dirinya dan berubah menjadi kecintaan terhadap keluarga DINA, JOE merasa bahwa DUDI dan NONG adalah bagian dari keluarganya juga. kecintaannya terhadap NONG membuatnya pergi keluar pulau, hal tersebut membuktikan kefrustasian dan tidak menerimanya terhadap keanehan cinta yang JOE rasakan. JOE juga mempunyai sifat teguh dalam pendirian. Hal ini terihat pada saat gejolak jiwanya terjadi, ketika dia harus memilih dua pilihan. Mencintai NONG atau meninggalkannya. Pada akhirnya JOE meninggalkan NONG karena JOE teguh pada pendiriannya semula bahwa JOE tidak mungkin mencintai adik kandungnya sendiri.

NONG

NONG berparas cantik dan beralis tebal. Dikedua belah pipi NONG terdapat dua lesung pipit yang menambah aroma kecantikan NONG. NONG adalah anak kandung dari LILIS, NONG mempunyai sifat kasih sayang dan penyabar. Hal itu tercemin dari kecintaannya terhadap JOE yang teramat sangat, walaupun NONG mendapat kabar dari JOE bahwa mereka dalah saudara sedarah. kesabaran NONG terlihat, ketika NONG mendidik anak anak kecil didesa. NONG begitu sabar dan penuh perhatian menuntun anak anak agar menjadi anak anak yang optimis terhadap masa depan dan menghargai pendidikan untuk membangun desanya dan kehidupan merek kelak.

DUDI

DUDI bewajah tampan dan berambut ikal. DUDI adalah putra dari pasangan HERU SETIAWAN dan DINA (Istri kedua HERU). DUDI mempunyai sifat perhatian dan supel, sifat perhatian terlihat pada saat DUDI mengirim surat kepada NONG didesa, dalam surantya DUDI mengungkapkan kerinduannya pada NONG dan memintanya untuk pulang keJakarta. Sedangkan sifat supel tercermin dari kedekatannya dengan teman teman NONG, DUDI menganggap temen teman NONG adalah teman teman selkaligus adik DUDI juga.

DEWI

Dewi adalah putri dari DINA dan ANDI, Dewi memiliki bentuk wajah yang bulat dan itu mewarisi bentuk wajah ANDI. Rambut DEWI panjang terurai kebelakang punggung. DEWI mempunyai sifat manja dan sedikit judes, Sifat manja DEWI terlihat dari kedekatannya dengan DINA. hal itu disebabkan karena DEWI memang anak bungsu. Sedangkan sifat sedikit judes terlihat, manakala beberapa kali DEWI dan JOE saling mengatai.

DINA

DINA adalah istri kedua HERU SETIAWAN. Walaupun sudah hampir menginjak usia kepala empat, wajah DINA masih terlihat cantik. Rambut lurus DINA panjang terurai sebahu, tubuhnya yang tinggi dan langsing menambah selarasnya penampilan DINA. DINA mempunyai sifat penyayang dan penyabar, sifat penyayang tercermin dari sayangnya DINA terhadap DUDI walaupun DUDI bukan anak kandungnya, DINA sanggup menyimpan rahasia tersebut hingga akhir hayat DINA. Sifat penyabar


2. Hutan Putih

Judul : Hutan Putih
Jenis : Lepas
durasi : 120 menit
Halaman : 105 Halaman

Contoh Scene :

01. EXT. JALAN SETAPAK DESA : JAMBATAN BAMBU. SORE

RIDHO. RIDA

RIDHO kecil sedang bermain ditepi selokan kecil dibawah jembatan bambu.

RIDA kecil melintas dengan menggunakan payung.

RIDA berhenti sesaat dan menoleh kearah RIDHO.

RIDHO dan RIDA saling berpandangan, dan mereka tersenyum.

RIDA berlalu.

RIDHO masih melamun seolah olah bayangan wajah RIDA masih ada dikepalanya

CUT TO

02. EXT. RUMAH RIDHO : HALAMAN DEPAN. SORE

RIDHO. RIDA. ANA

RIDHO memasuki halaman rumah.

RIDHO tertegun melihat ANA menampar RIDA didepan rumah RIDA yang bersebelahan dengan rumah RIDHO, manakala RIDA terlalu sore bermain.

ANA menjambak baju RIDA kemudian menariknya kedalam rumah.

RIDA menangis.

RIDHO memasuki rumah.

CUT TO

03. INT. RUMAH RIDHO : KAMAR RIDHO. SORE

RIDHO

RIDHO membuka jendela kamar dan memperhatikan rumah RIDA.

RIDHO mendengar suara terikan RIDA menangis karena dipukul oleh ANA.

RIDHO menutup jendela kamar.

RIDHO menghempaskan tubuhnya keatas kasur.

FADE OUT

FADE IN

04. EXT. RUMAH ANA : HALAMAN SAMPING. MALAM

RIDHO. RIDA

RIDHO mendekat kejendela kamar RIDA.

RIDHO mengetuk jendela kamar RIDA pelan.

Tak lama RIDA membuka jendela.

RIDA

“RIDO?”

RIDHO diam dan mengangguk kecil.

RIDA

“Ada apa DO?”

RIDHO

“Kamu tidak apa apa?”

RIDA

“Kenapa memang?”

RIDHO

“Aku tadi lihat kamu dipukul sama mama kamu”

RIDA

“Tidak apa apa” seraya tersenyum kecil menyembunyikan sedihnya.

RIDHO memberikan sesuatu kepada RIDA dari balik tangannya yang sejak tadi disembunyikan.

CU. Telapak tangan RIDHO yang memegang kalung yang terbuat dari rangkaian biji onje

RIDA

“Untuk aku?”

RIDHO mengangguk seraya memandang wajah RIDA dengan tajam.

RIDA

“Terima kasih” berbicara dengan nada pelan.

RIDHO

“Kalung itu aku yang buat sendiri”

RIDA

“Oh ya, mau ajari aku cara membuatnya?”

RIDHO mengangguk.

RIDA tersenyum.

RIDHO perlahan mundur dan bermaksud move seraya tak mau lepas memandangi RIDA.

RIDA

“Mau kemana?”

RIDHO

“Aku ma…” belum sempat RIDHO menyelesaikan kata kata, kakinya tersangkut akar pohon dan jatuh dengan pantat mendarat ditanah telak.

RIDA tertawa tertahan seraya menutup mulutnya yang mungil dengan telapak tangan.

Wajah RIDHO memerah malu dan move.

CUT TO

05. EXT. BELAKANG RUMAH RIDHO : JALAN SETAPAK. MALAM

RIDHO. RIDA

RIDHO berjalan perlahan.

RIDA mengikuti dari belakang.

RIDA

“DO, jalannya jangan cepat cepat, tunggu aku”

RIDHO terkejut karena tak mengira RIDA mengikuti.

RIDHO

“RIDA! Kamu!”

RIDA

“Kamu mau kemana, pulang?”

RIDHO

“Tidak, kalau malam aku biasa lihat bulan dari ujung tebing sana, disana bulan terlihat besar sekali”

RIDA

“Aku ikut”

RIDHO

“Aku takut kamu dimarahi lagi sama mama kamu”

RIDA menggeleng.

RIDHO dan RIDA move.

CUT TO

06. EXT. UJUNG TEBING. MALAM

RIDHO. RIDA

EXTABLISH. Pemandangan bulan purnama yang menawan.

RIDHO dan RIDA memandangi bulan yang bulat.

RIDA

“Terima kasih ya DO”

RIDHO

“Untuk apa?”

RIDA

“Untuk kalungnya”

RIDHO

“Tadi kan sudah, terima kasihnya”

RIDA

“Untuk mengajak aku kesini juga”

RIDHO tersenyum.

RIDA

“Benar saja yang kamu bilang DO, disini bulannya lebih besar dibandingkan bulan yang dihalaman rumah ku. Bulannya indah sekali” seraya bersama sama menatap kelangit yang bermandikan sinar bulan”

RIDHO

“Kakekku bilang, waktu kakek muda dia pernah melihat bidadari cantik turun dari bulan itu dan menjemput kakek”

RIDA

“Benarkah?”

RIDHO mengangguk.

RIDA

“Apakah itu dongeng kakek kamu?”

RIDHO

“Menurutku sih begitu, tapi apapun cerita itu aku sangat suka”

RIDA

“Lalu?”

RIDHO

“Bidadari itu perlahan mendekati kakek dan mengajak kakek pergi keistananya diatas awan”

RIDA

“Diawan?!” dengan wajah berbinar.

RIDHO

“Istananya sangat besar dan indah, rumput dan bunga bunga dihalaman istana berwarna putih seperti sutra. Menurut kakek, hanya orang orang baik dan berhati sabar yang bisa bertemu dengan bidadari untuk dibawa keistana itu”

RIDA

“Lalu apa yang dilakukan kakekmu disana?”

RIDHO

“Sang bidadari rupanya adalah seorang ratu pemilik istana, sudah lama sang ratu memperhatikan kakek dari negeri kayangan. Diam diam sang ratu jatuh cinta kepada kakek dan meminta kakek untuk tinggal diistana untuk jadi pendampingnya sampai mati, kakek sangat senang sekali dan menerima cinta sang ratu karena kakek pun mencintai ratu. Sehari sebelum pernikahan sang ratu dan kakek, datanglah seorang raja yang angkuh dari negeri seberang. Raja yang angkuh meminta sang ratu untuk menjadi istrinya yang ke20, sang ratu menolak, raja marah dan menghancurkan istana sementara kakek yang hanya manusia biasa tidak bisa melawan kekuatan sang raja angkuh yang sangat sakti”

RIDA

“Lalu lalu?” penasaran.

RIDHO

“Kakek dan sang ratu melarikan diri kerimba diatas khayangan, karna mereka diancam akan dibunuh jika diketemukan”

RIDA

“Disana ada rimba?” memotong cerita RIDHO.

RIDHO

“Menurut kakek hutan disanapun begitu menawan, dedaunannya pun semuanya berwarna putih. Rimbunnya dedaunan tidak satu helai daunpun gugur ketanah sepanjang masa, jadi permukaan tanah dibawahnya begitu bersih”

RIDA terlihat terpesona.

RIDHO

“Lama kakek dan sang ratu bersembunyi dihutan, hingga kakek dan ratu kelaparan. Dalam kesusahan dan suka duka, mereka tetap saling menjaga dan mencinta hingga pada suatu saat mereka melangsungkan pernikahan dengan disaksikan oleh seekor angsa hutan yang berwarna warni.

RIDA

“Mereka menikah?”

RIDHO mengangguk.

RIDHO

“Tak lama setelah pernikahan, kakek dan ratu tertangkap oleh raja. Raja berniat membunuh kakek dan memaksa ratu untuk menjadi selirnya. Namun ratu berkata pada raja bahwa ratu bersedia menjadi isterinya asalkan kakek tidak dibunuh. Ahkirnya kakek dikembalikan kebumi oleh raja”

RIDA

“Sang ratu bagaimana?”

RIDHO

“Sang ratu bunuh diri dengan cara melompat kejurang pada saat perjalanan pulang keistana”

RIDA termangu sejenak.

RIDA

“Sungguh dongeng yang mengharukan”

RIDHO

“Kakek sering menceritakan cerita itu berulang ulang tapi anehnya aku tidak bosan bosan mendengarkannya. Dulu aku mengira cerita kakek itu benar adanya tapi lama kelamaan aku mulai tahu bahwa itu pasti dengeng”

RIDA tersenyum.

RIDHO

“Tapi dengan adanya cerita kakek. bila aku memandangi bulan dari tebing ini seolah olah aku melihat bayangan kekasih kakek sedang tersenyum memandangiku”

CU. Telapak tangan RIDA perlahan merayap menggenggam telapak tangan RIDHO.

RIDHO menoleh kearah tangannya yang tergenggam telapak tangan RIDA.

RIDHO tersenyum kemudian kembali memandang bulan.

RIDA

“DO, terima kasih yah”

RIDHO

“Pasti untuk dongengnya”

RIDA tersenyum.

RIDHO

“Kamu itu aneh”

RIDA

“Aneh kenapa?”

RIDHO

“Iya, selalu bilang terima kasih untuk semua hal”

RIDA

“Tidak boleh?”

RIDHO tersenyum

RIDA

“Kamu tuh sudah temenin aku, ngajak ngobrol, buat aku seneng, pokoknya banyak deh jadinya aku bilang terima kasih terus”

RIDHO

“Beneran aku sudah buat kamu seneng?”

RIDA tersenyum memandang RIDHO tajam dan mengangguk..

RIDHO

“Kamu itu lucu kalau tersenyum”

RIDA

“Kenapa?”

RIDHO

“Nggak ah” tersenyum.

RIDA

“Kenapa?” tersenyum seraya mendorong punggung RIDHO pelan (bersikeras ingin tahu).

RIDHO

“Nggak jadi deh”

RIDA

“RIDHO?!”

RIDHO

“Nanti kamu marah”

RIDA

“Tidak!”

RIDHO

“Bener”

RIDA

“Iya”

RIDHO

“Yakin”

RIDA

“Tau ah!!”

RIDHO

“Kamu itu kalau tertawa lucu, sebab gigi depan kamu berantakan”

RIDA

“He…he…he…”

RIDHO pun ikut tertawa.

RIDA

“Yang lucu itu kamu tahu!”

RIDHO

“Loh kok aku, kenapa?”

RIDA

“Iya cuma mau bilang begitu saja kok takut”

RIDHO tersenyum.

RIDHO

“Kamu itu rupanya orangnya menyenangkan”

RIDA

“Memang kamu kira aku orangnya gimana?”

RIDHO

“Iya aku kira kamu orangnya yang ga suka humor, mudah tersinggung dan judes. Tahunya tidak”

RIDA

“Memang aku ada tampang seperti itu”

RIDHO

“Iya, apalagi pertama kamu pindah kedesa ini sebulan yang lalu. Kamu kalau memandang orang seperti mau mencakar saja”

RIDA

“He…he…masa sih, aku kok aku nggak ngerasa yah” tersenyum.

RIDHO

“Iya, aku serius”

RIDA

“Kita pulang yuk DO”

RIDHO

“Iya”

RIDHO dan RIDA bengkit dan move.

CUT TO

07. EXT. RUMAH ANA : HALAMAN SAMPING. MALAM.

RIDHO. RIDA. ANA

RIDHO dan RIDA perlahan memasuki halaman samping rumah.

RIDHO

“RIDA, tunggu dulu!” pelan.

RIDA

“Ada apa?” berbisik.

RIDHO

“Apakah terakhir kamu meninggalkan kamar, jendela kamarmu tertutup” seraya memanadang jendela kamar yang tertutup.

RIDA

“Terbuka, ber..ar..ti”

Baru saja RIDA mengahkiri kalimatnya, ANA sudah berada tepat disebelah RIDHO dan RIDA dengan ekspresi wajah yang sangat marah.

Dengan bola mta yang membesar ANA memandang RIDHO sinis.

RIDHO menunduk.

ANA

“Cepat masuk RIDA!” dengan nada pelan tetapi tajam.

Dengan wajah ketakutan RIDA move dengan cepat kearah depan rumah.

Diikuti oleh ANA dari belakang.

RIDHO masih berdiri terpaku dihalaman samping rumah.

Subjektif kamera menyorot jendela rumah

VO. RIDA (dari dalam rumah)

“Ampun mah…!!, ampun…, ampun…, uu..uu…”

RIDHO berlari kearah rumahnya.

CUT TO

07. INT. RUMAH RIDHO : KAMAR RIDHO. MALAM

RIDHO

RIDHO memasuki kamar dan langsung mendekat jendela kamar, kemudian beberapa saat memandangi rumah RIDA dari celah jendela.

FADE OUT

FADE IN

08. INT. RUMAH RIDHO : KAMAR RIDHO. PAGI

RIDHO

RIDHO Masih tertidur pulas diranjang kecilnya.

VO. Kokok ayam jantan.

RIDHO perlahan terjaga.

Dengan malas RIDHO beranjak kemudian mendekati jendela kamar.

RIDHO melihat RIDA sedang menjemur pakaian dihalaman rumahnya.

RIDHO sangat terkejut ketika melihat luka memar membiru dipelipis RIDA.

RIDHO membuka jendela

RIDHO

“RIDA!” memanggil.

RIDA menoleh, tapi RIDA meneruskan menjemur pakaian seolah olah tidak menghiraukan panggilan RIDHO. Tak lama kemudian RIDA dengan tergesa gesa memasuki rumah dengan keranjang pakaian ditangannya.

RIDHO hanya diam terpaku.

MIRNA muncul dari ambang pintu.

MIRNA

“Kok pagi pagi bengong begitu DO?”

RIDHO

“Ah ibu, RIDO sampai kaget”

MIRNA

“Hari ini kamu ujian akhir bukan?”

RIDHO

“Mm” seraya move mengambil handuk dari dalam lemari.

MIRNA move.

RIDHO move

CUT TO


3. Kisah

Judul : Kisah
Jenis : Lepas
durasi : 120 menit
Halaman : 108 Halaman

Contoh Scene ending :

106. INT. RUMAH JANA : RUANG KELUARGA. MALAM

JANA. TINA

TINA menorong kursi roda yang diduduki oleh JANA kearah pesawat telpon.

TINA mengambil gagang telpon.

TINA

“Halo”

VO PHONE ERWIN.

“Iya”

TINA

“Ini tuan JANA, saya letakkan ditelinganya. Silahkan bicara”

VO PHONE ERWIN

“Baik”

TINA melekatkan gagang telpon ketelinga JANA.

VO PHONE ERWIN

“Maafkan saya sebelumnya pak, saya ERWIN. mungkin baru sekali ini bapak mendengar suara saya. Maksud saya menelpon adalah untuk memberitahu kabar saya, WATI dan juga FARA”

Wajah JANA terlihat tegang.

VO. PHONE ERWIN

“Seharusnya saya tidak pantas meminta maaf pada bapak, karena dosa dosa saya terlalu besar. Tapi hanya itu yang bisa saya katakan dan saya akan melakukan apa saja untuk menebus semua kesalahan saya, melarikan istri bapak adalah hal yang nista. Walaupun sesal tiada arti, tapi saya harus mengatakan itu. sekali lagi maafkan saya pak, dan saya hanya bisa pasrah dengan jiwa yang besar jika bapak tidak berkenan memaafkan saya. Saya mungkin tidak akan berbicara banyak pak, tapi ada satu hal lagi yang sangat mengganjal dihati saya adalah masalah FARA. Saya dulu pernah menodai FARA pada saat bapak datang kevilla, saya begitu mencintai FARA sejak dulu sampai sekarang. Tapi cintaku tidak pernah terbalas. Dulu aku begitu membenci bapak karena kecintaan FARA pada bapak yang membuat cintaku kandas. Pak…, FARA masih menunggu bapak divilla itu, dan bapak memiliki seorang putra yang sangat gagah bernama NURMAN. Mereka berdua sangat mencintai dan menunggu bapak sampai kapanpun, jangan sampai mereka tidak sempat menemui bapak sampai sepanjang hayatnya. Saya sangat mohon temui mereka pak. Terima kasih sebelumnya pak, saya rasa cukup sekian”

VO. Suara pesawat telpon ditutup.

Mata JANA berkaca kaca.

JANA menatap TINA dan mengangguk (mengisyaratkan bahwa JANA telah selesai menelpon)

JANA meletakkan gagang telpon kepesawat telpon.

JANA tidak dapat menahan sedih kemudian berderailah air matanya.

TINA

“Kenapa tuan?!”

JANA terus menangis dan air matanya tumpah dengan deras.

TINA

“Tuan” berbisik pelan seraya menghapus air mata JANA.

CU. Tangan JANA bergerak gemetar.

TINA memperhatikan tangan JANA.

Tangan JANA perlahan mengankat dengan gemetar dan mencoba menunjuk sesuatu kearah meja.

TINA

“Tuan! Tuan bisa menggerakan tangan tuan!” seraya tersenyum dan gembira.

JANA terus mencoba menujuk sesuatu yang berada diatas meja.

TINA

“Apa tuan! Tuan ingin apa?!” seraya mendekat kearah meja”

TINA

“Ini?” mengambil sebuah buku yang tergeletak diatas meja.

JANA menggelengkan kepala.

TINA

“Ini?” mengangkat vas bunga.

JANA kembali menggeleng.

TINI melihat sebuah pena, lalu meraihnya.

TINA

“Ini tuan?”

JANA mengangguk.

TINA menghampiri JANA kemudian memberiakan pena tersebut.

JANA mengambilnya engan tangan yanfg gemetaran.

JANA meminta sesuatu dengan isyarat wajah.

TINA mulai mengerti kalau JANA ingin meminta selembar kertas dan menuliskan sesuatu.

TINA mengambil secarik kertas dan meletakknnya diatas meja yang berdekatan dengan JANA.

JANA dengan susah payah mencoba menuliskan sesuatu diatas kertas.

CU. Kertas putih goresan tangan JANA tertulis ‘aku mempunyai seorang putra’.

TINA

“Benarkah?”

JANA kembali menuliskan sesuatu dengan berderai air mata.

CU. Kertas putih goresan tangan JANA tertulis ‘NURMAN’.

TINA

“Namanya NURMAN?” seraya tersenyum dan turut berlinang air mata.

JANA mengangguk.

TINA

“Lelaki”

JANA mengangguk.

TINAmemeluk JANA bahagia.

FADE OUT

FADE IN

107. EXT. VILLA : HALAMAN DEPAN. PAGI

JANA. TINA. SUPIR(PIGURAN). FARA. NURMAN

FARA dan NURMAN sedang membersihkan taman depan villa.

Mobil sedan milik JANA memasuki halaman villa.

FARA mengenali mobil JANA dan segera bergegas mendekat.

Supir keluar dari pintu depan kemudian membukakan pinti belakang.

TINA membuka bagasi belakang mobil dan mengambil kursi roda.

FARA melihat JANA, kemudian langsung menubruk dan memeluk JANA.

FARA

“Om JANA” seraya menangis.

JANA berderai air mata.

FARA

“Ada apa dengan om?!”

JANA kemudian menulis sesuatu dengan kapur kepapan tulis kecil yang tergantung dilehernya.

CU. Tulisan yang ditulis ‘mana anakku NURMAN?’

FARA menangis dan menatap mata JANA tajam.

NURMAN belum mengerti dan hanya berdiri dan terpaku diam ditaman villa.

FARA

“Itu” seraya menunjuk kearah NURMAN.

JANA memandang sejenak.

JANA

“NU…NUR, NUR…NURMAAN” dengan suara serak parau.

TINA

“Oh tuhan…, tuan bisa bicara. Tuan sembuh!”

FARA berlari menghampiri NURMAN.

FARA

“Itu ayahmu MAN” seraya menuntun tangan NURMAN.

JANA dan NURMAN berpelukan.

Lalu mereka semua perlahan memasuki rumah.

FADE OUT

FADE IN

108. EXT. VILA : HALAMAN DEPAN. SIANG

NITA. NISI. ARNI

Mobil sedan memasuki halman villa dan berhenti tepat disamping mobil JANA.

NITA, ARNI dan NISI keluar dari kendaraan.

NITA

“Om JANA” berbisik seraya memandang mobil om JANA.

NITA, ARNI dan NISI perlahan memasuki rumah.

FADE OUT

FADE IN

109. INT. RUMAH ERWIN : KAMAR ERWIN. SORE

WATI

WATI dengan raut wajah yang sedih membaca secarik surat.

VO ERWIN

“Ma, aku dan NISI pergi dan tidak perlu cari kami. Aku tidak akan mungkin kembali, jangan harapkan kami lagi. Aku tidak menghukum siapapun, aku banyak berbuat salah dalam hidupku dan aku akan menebusnya sekarang. Jalanilah hidupmu dengan baik, masa depanmu cukup cemerlang. Selamat tinggal, tertanda ERWIN”

WATI menangis tersedu.

S E L E S A I



Tidak ada komentar:

Posting Komentar